Naik Motor Ke Dieng Negeri Atas Angin

Berjalan, dan terus berjalan menikmati pengalaman hidup yang tertunda saat muda. Justru ketika usia sudah menjelang senja,hampir punya cucu, saya baru bisa mewujudkan keinginan. Naik motor berkeliling negeri.

Setelah sebelumnya ke Karimunjawa
Kali ini saya menikmati perjalanan bersama istri ke Dieng Plateau.

Persiapan

Karena saya berencana naik motor, maka yang yang saya siapkan adalah kendaraan tempur yang selama ini saya pakai. Thunder 125 tahun 2009 ini memang multi fungsi . Selain setia mengantar ke manapun saya pergi, ia juga bertugas membawa dagangan saya ke pangkalan. Makanya saya sangat menyayanginya melebihi istri saya sendiri. walah walah .. wkwkwk
Ganti oli, cek mesin,rantai ban, kelistrikan, dan semua komponen dengan  detail dilakukan. Tak lupa saya mandikan dengan kembang tujuh rupa, maksudnya biar selamat di perjalanan dan tiba di tempat tujuan dengan aman dan pulang kembali dengan kondisi utuh.

Keberangkatan

Setelah  semua persiapan termasuk bekal uang saku dan beberapa stel pakaian dimsukkan dalam tas pukul  13.00 saya berangkat dari Semarang. 
Hari Sabtu yang lumayan lengang. Maklum cuaca kurang mendukung. hujan yang turun sejak pagi menyisakan banyak persoalan. Mungkin kendaraan yang malam harinya sudah terlanjur dimandikan sayang untuk dikeluarkan, sehingga meskipun hari libur suasana sepanjang jalan Semarang-Ungaran-Bandungan, sangat lengang.Sepanjang perjalanan saya hanya menjumpai beberapa kendaraan yang lewat dari arah berlawanan nampaknya mereka dari luar kota terlihat mobil-mobil mereka penuh noda dan debu jalanan membekas sampai pulang.

Jalan Jimbaran Bandungan belum tampak ramai karena hari Sabtu dan masih siang. Biasanya kendaraan luar kota dari  arah Semarang akan memenuhi jalanan ini malam hari dan sepanjang Minggu siang sampai sore.
Motor saya pacu perlahan 40KM/jam sambil sesekali ngobrol dengan istri saya di boncengan. Pemandangan sepanjang jalan Jimbaran Bandungan mengingatkan saya di waktu kecil. Maklum saya lahir dan besar di Bandungan jadi halal benar kondisi daerah ini.

Sepanjang jalan hotel dan dan penginapan berjajar rapi seakan menarik orang-orang untuk datang  rehat. Saya pun sudah beberapa kali menikmati malam-malam romantis bersama istri di sela-sela pekerjaan saya yang menumpuk. Ya di tempat ini. Ada beberapa penginaoan murah yang semalam hanya 50-75 ribu. Dengan fasilitas tempat tidur yang nyaman dan air panas.

Sampai  di Bandungan saya melambaikan tangan ke beberapa orang yang saya kenal. Mereka adalah penduduk asli Bandungan yang bekerja sebagai karyawan hotel. Maunya sih mau belok saja dan menginap, tapi nanti nggak jadi ke Dieng dong .. hahaha.

Sampai di Sumowono kami mampir sejenak untuk menikmati makan siang. sambil bertanya pada pemilik warung jalur terbaik ke arah Dieng.
Akhirnya berdasarkan keterangan pemilik warung kami melanjutkan perjalanan dan dipesan untuk selalu bertanya kalau di jalan mengalami keraguan.

Jalur Sumowono Kaloran adalah jalur alternatif yang nyaman. Aspal halus sepanjang jalan membentang sampai ke perkebunan Kopi Tambi.  Sayang waktu itu gerimis mulai datang, sehingga saya tidak bisa melihat aktifitas para pemetik daun teh yang biasanya mulai beroperasi sejak pagi atau menjelang sore.

Keluar dari Tambi langsung menuju jalan Wonosobo Dieng. Jalan menanjak dan menikung sepanjang hampir 15KM benar-benar  membuat  saya seperti di Nirwana. Hawa segar pegunungan tanpa polusi memaksa saya membuka kaca helm dan menghirup udara pegunungan sepuas-puasnya.


Sampai di Dieng

Tak terasa perjalanan Ke Dieng dari Sumowono hanya membutuhkan waktu +- 1,5 jam.  Karena saya berangkat sendiri maka sesampainya di Dieng saya bingung juga. Bingung mau ke arah mana dulu. Soalnya selain buta peta, saya juga miskin informasi mengenai Dieng. 

Setelah menikmati semangkuk bakso berdua yang rasanya begitulah, saya kembali menstater motor dan berputar melihat-lihat suasana. Tapi karena belum ada rencana akhirnya masih saja bingung. Dan dalam kebingungan itu kami mampir ke sebuah masjid untuk sholat ashar. Setelah sholat saya segera browsing homstay murah yang ada di kawasan Dieng.

Menginap di Homestay Kemangi

Di tengah browsing informasi, saya klik sebuah nomor yang ada di Traveloka, saat dihubungi ternyata adminya langsung merespon dan memberikan lokasi teoatnya. Dan kami pun menuju ke homstay ini. Pemiliknya namanya pak Hafidz asli Jakarta tapi sudah menetap lama di Dieng. Istrinya pergi di bawa orang. Sehingga ia mengelola beberapa homstay ini sendiri dan dibantu beberapa karyawannya. Harga permalam hanya 123.000 dan kalau call langsung dengan pemiliknya tanpa aplikasi,  permalam hanya 100.000. Dan kami pun menginap di sini.

Kondisi Homestay Kemangi

Nyaman dan aman, itu kesan yang kami dapatkan saat pertama kali menginjak homestay ini. 
Pertama kali datang langsung diberi dua kunci. Kunci kamar dan kunci pintu rumah. Homestay Kemangi ada 4 kamar, satu untuk pemilik rumah dan satu lagi dan 3 kamar yang ada di lantai 2 disewakan untuk para pelancong.

Sprei cantik,  penutup bantal guling yang coraknya senada menghiasi kamar yang kami pesan. Tak lupa selimut tebal dan lebar membuat kami berdua merasa lebih nyaman lagi.

Di dapur oleh pemilik rumah sudah disediakan alat masak sederhana tetapi sangat lengkap . Jadi untuk satu keluarga yang ingin menikmati masakan sendiri tidak perlu khawatir karena alat masak sudah disediakan termasuk gas LPG yang selalu penuh.

Kamar mandi dengan air asli pegunungan yang super dingin bisa anda nikmati setiap saat. Dan pemilik rumah melengkapi melengkapi kamar mandi yang ada di lantai saatmtu dan dua dengan fasilitas air panas.

Ruangan yang lega, tersedia TV dan sound system' ruangan. Nyaman untuk berkaraoke bersama keluarga. Kalau gambar di TV kurang lebar pemilik rumah juga menyediakan menyediakan mini LCD yang bisa disorotkan ke tembok.

Tempat ini juga menyediakan ekstra bed. Semalam hanya perlu tambahan Rp.25.000/buah . Jadi jangan kawatir bagi rombongan keluarga takkan kekurangan alas tidur.


Memulai Tur

Tidak ada rencana, tidak ada jadwal. Itu yang kami rasakan saat di Dieng. Malam hari teman satu rumah yang berasal dari kebumen, dan sepertinya pengantin baru, mengajak kami untuk menikmati sunrise di bukit Si Kunir. 
Tapi sayang saya bangun terlambat. Sehingga keinginan itu hanya tertahan sampai entah kapan bisa mewujudkannya lagi.

Candi Pandawa

Pukul 07.00 setelah sarapan yang dicarikan oleh istri , kami berangkat berkeliling Dieng menggunakan sepeda motor. Tak lupa pamit pada pemilik rumah bahwa kami akan menyelesaikan tur hanya sampai dhuhur. 
Tujuan pertama kami langsung menuju candi Pandawa yang letaknya tak jauh dari homestay.  
Memasuki area parkir lokasi masih sangat sepi hanya ada satu dua orang pekerja. Saya pun memarkirkan sepeda motor dan menuju tempat pembelian tiket masuk. Tak mahal, di loket pembelian tiket hanya tertulis angka rp.15.000. Tapi saya tengok kanan kiri tak ada seorangpun penjaga . Jadi kami langsung masuk saja. Puluhan meter jalan mengarah ke Candi Puntadewa , menyajikan panorama taman surga yang memukau . Kiri kanan jalan paving yang tertata rapi terhampar taman bunga berbagai jenis yang memanjakan mata .
Menurut keterangan yang saya peroleh dari internet, setiap pemgunjung yang datang ke Candi Pandawa diharuskan melilitkan kain kotak-kotak di pinggang yang disediakan oleh penjaga. Tapi saat itu tidak ada seorang penjaga pun yang kami jumpai . Sehingga kami terus saja melanjutkan perjalanan sampai ke pelataran Candi . 

Sepi, dan terasa ada aroma magis saat kami sampai di lokasi . Candi yang utuh dengan halaman yang luas serta hamparan batu-batu bahan candi seperti bercerita akan sebuah peradaban masa lalu yang penuh kejayaan. 
Kami tak lama menghabiskan waktu di tempat ini dan segera beranjak untuk menikmati lokasi berikutnya. 
Candi Gatotkaca ada di luar area . Dan kami sejenak menikmatinya .


Museum Kailasa

Kata orang tak lengkap rasanya kalau ke Dieng tapi tidak mampir ke Museum Kailasa . Lokasinya persis di depan area parkir Candi Pandawa.jadi tinggal menyebarang jalan saja, maka sampailah kami. 
Hari itu hari Senin, dan waktu masih pagi. Kata orang-orang sekeliling museum akan dibuka pukul 08.00. Tapi saya menunggu sampai jam 08.00 lewat tak ada satu pintu pun yang terbuka. Bahkan gedung teater yang katanya menyediakan Fim tentang sejarah Dieng gagak kami nikmati . 
Akhirnya kami hanya berjalan saja sampai ke puncak bukit menikmati udara pagi yang sangat sejuk dengan suguhan pemandangan kota Dieng yang sangat indah 

Kawah Sikidang 

Dengan tiket rp.15.000 /0rang yang ditarik oleh penjaga di luar area kawah kami memasuki lokasi Kawah Sikidang. Aroma belerang yang menyengat membuat saya penasaran untuk segera bisa sampai lokasi . Hamparan batu-batu terjal sepanjang mata memandang tersuguh di depan mata. Kami pun terus berjalan memasuki area kawah . Bagi pengunjung yang ingin menikmati lokasi dengan kendaraan di dalam ada persewaan. Sepeda motor yang hanya disewa rp.50.000 untuk sekali pakai . Di dalam juga disediakan. Lokasi untuk foto-foto selfie.

Yang paling berkesan adalah lokasi inti kawah Sikidang. Berdiameter puluhan meter kawah ini mengeluarkan asap sepanjang masa. Suara menggelegak dari air belerang yang panas alami terdengar sampai radius beberapa puluh meter. Di tempat ini ada lokasi favorit para pelancong yaitu tempat rebus telur kawah .
Saya tidak hanya menikmati telurnya tapi juga menikmati prosesnya dengan memasukkan sendiri telur ke dalam kawah. Harganya 1 butir rp.5000 dan saya menikmati 2 butir.


Bertemu Pawang Burung Hantu 

Matahari makin meninggi. Cuaca makin terik kami segera beranjak bersiap meninggalkan lokasi kawah Sikidang. 
Dalam perjalanan saya bertemu dengan orang lokal yang sepertinya menyediakan spot khusus untuk pengunjung yang ingin berfoto dengan burung hantu peliharaannya.
Dan momen ini saya abadikan dalam sebuah tayangan video.



Telaga Warna

Lokainya tak jauh dari kawah Sikidang  hanya beberapa puluh meter. Memasuki lokasi ini juga dengan merogoh kocek Rp.15.000/orang .
Lorong panjang dengan petunjuk jalan yang mengarah ke segala arah pasti membuat siapapun penasaran untuk bisa sampai tujuan. Di tempat ini selain menikmati suasana telaga yang nyaman dan sejuk saya juga berkeliling area telaga antara lain ke Goa Pengantin, goa Semar dan lain- lain. Dan Gambarannya semua sudah terangkum dalam video di bawah ini .


Dan itulah sekelumit kisah perjalanan saya naik motor ke Dieng bersama istri yang tentunya akan bermanfaat bagi para pembaca. Selamat menikmati perjalanan wisata anda.  





Silahkan berinteraksi asal jangan saling menyakiti. Apalagi memasang link sebagai aksi. Jangan lakukan ini nanti kita bisa saling sakit hati
EmoticonEmoticon